REFLEKSI ALUMNI DI WAG
Selamat Pesta St. Petrus dan Paulus
Saidara sekalian yang terkasih, di hari pesta St. Petrus dan Paulus ini, saya tertarik dengan tulisan seorang umat Katolik tentang Imam dalam Gereja Katolik. Saya kira menarik untuk kota semua renungkan.... Sama Seperti Rasul Peteus dan Paulus, para Imam juga adalah manusia biasa, yang memiliki kekurangan dan keterbatasannya.... Namun mereka dipilih Tuhan untuk melayani GerejaNya....ππ
=====================
[copas]
Teman membagikan ini kepada saya dan saya telah membagikannya kepada umat paroki lain sehingga mereka memiliki sedikit pemahaman tentang kehidupan seorang imam. Mohon bagikan pesan ini kepada orang lain, pesan ini panjang tetapi layak untuk dipahami kita.
JENIS IMAM YANG ANDA IDEALKAN TIDAK ADA
Beberapa umat paroki mencari imam yang ideal.
Anda menginginkan imam yang akan membesarkan anak-anak Anda lebih baik daripada Anda, membimbing keluarga Anda, menghadiri setiap pertemuan, tidak pernah berkata tidak, dan tetap tersenyum sambil memikul salibnya sendiri yang tak terlihat.
Anda menginginkan imam yang selalu tersenyum, tetapi Jangan pernah terlalu gembira.
Anda menginginkan imam yang rendah hati, tetapi Jangan terlalu pendiam.
Anda menginginkannya yang berani dalam kebenaran, tetapi Jangan pernah terlalu konfrontatif.
Anda menginginkannya menyampaikan homili yang kritis, tetapi Jangan pernah berbicara tentang dosa-dosa Anda.
Anda menginginkannya yang miskin dan terpisah dari dunia, tetapi tetap mengenakan jubah yang bagus.
Anda menginginkan imam yang hidup untuk Anda tetapi tidak pernah berjuang seperti Anda.
Kebenaran?
Anda tidak menginginkan imam manusiawi. Anda menginginkan Tuhan.
Bahkan Yesus, Putra Tuhan sendiri, disalahpahami. Ia dikritik karena makan bersama orang berdosa. Ia disebut terlalu keras karena menegur kemunafikan. Terlalu lembut ketika Ia mengampuni pelacur.
Terlalu radikal ketika Ia membalikkan meja dagang. Terlalu pendiam ketika Ia berdiri diam di hadapan Pilatus. Bahkan kampung halaman-Nya berkata, "Bukankah Ia anak Yusuf?" Mereka menginginkan orang lain, seseorang yang lebih "cocok" untuk harapan mereka.
Dan mereka menyalibkan orang yang tidak mereka pahami.
Umat beriman yang terkasih, imam Anda bukanlah orang yang sempurna.
Ia adalah orang yang dipanggil oleh Tuhan, dipilih dari antara manusia, dan dibentuk oleh kasih karunia, bukan sihir.
Ia mungkin menyampaikan khotbah yang tidak sesuai dengan keinginan Anda.
Namun, Ia bangun setiap pagi sambil membawa jiwa-jiwa dalam doa-doa-Nya. Ia menguburkan orang mati, menikahkan anak-anak Anda, membaptis bayi-bayi Anda, dan muncul ketika semua orang terlalu sibuk. Ia mendengar dosa-dosa Anda yang paling gelap dan tetap memandang Anda dengan kasih.
Namun, bibir yang sama yang berkata, "Amin" setelah menerima Yesus terkadang adalah bibir yang sama yang berkata, "Dia tidak cukup berbuat."
Ini bukan pembelaan terhadap yang biasa-biasa saja. Ada imam yang buruk, seperti halnya ada guru yang buruk, dokter yang buruk, dan politisi yang buruk.
Namun, kapan terakhir kali Anda berdoa untuk imam yang Anda kritik? Kapan terakhir kali Anda menyemangati imam yang datang untuk Anda setiap hari Minggu, bahkan ketika hatinya hancur?
Kita mengatakan Gereja adalah Tubuh Kristus, tetapi kita lupa bahwa tubuh merasakan sakit bahkan di altar. Gereja yang terkasih, kita bukanlah konsumen dan imam bukanlah produk.
Kita adalah peziarah, yang melakukan perjalanan bersama. Imam Anda berjalan bersama Anda, tidak di depan Anda seperti bos, tidak di belakang Anda seperti budak, tetapi di samping Anda, sebagai sesama pendosa yang berjuang menuju surga.
Dukunglah dia. Koreksi dia dengan kasih. Berdoalah untuknya. Dan jika Anda melihatnya jatuh, jangan melemparinya dengan batu. Bungkukkan badan dan bantu dia berdiri.
Karena suatu hari, Anda mungkin membutuhkan seseorang untuk melakukan hal yang sama untuk Anda.
Kebenarannya tetap, tidak ada imam yang sempurna.
[Selesai]
=====================
Sama Seperti Rasul Petrus dan Paulus, para Imam juga adalah manusia biasa, yang memiliki kekurangan dan keterbatasannya.... Namun mereka dipilih Tuhan untuk melayani GerejaNya...ππππ.
Rm. Anfi, MI
*********
Refleksi Aven Jaman
Imam adalah sasaran tembak paling depan di hadapan musuh yakni Kuasa Kegelapan.
Gereja adalah TIANG PENOPANG dan DASAR KEBENARAN MORALITAS PERADABAN DUNIA. Melalui Gereja, Allah sendiri hadir secara mistik untuk menguduskan setiap perubahan arah zaman berikut peradabannya.
Alllah kita yakini tak pernah salah mengarahkan sejarah. Dan iblis pun tahu tentang ini.
Maka, ketika Allah bermaksud mendamaikan kembali seluruh umat kepunyaan-Nya lewat Misteri Inkarnasi, iblis pun tak tinggal diam.
Berhubung Gereja adalah Tubuh Mistik Kristus sebagai manifestasi Rancangan Keselamatan yang hadir menyejarah sampai akhir zaman, Gerejalah tentunya yang akan digempur Iblis supaya dunia tak jadi beroleh penebusan Inkarnasi.
Nah Gereja sendiri di internalnya ada yang telah dikhususkan oleh Tuhan sendiri untuk memastikan kekudusannya (kekudusan Gereja) agar dapat menguduskan dunia yakni para imam.
Maka, kalau berniat supaya Gereja hancur binasa, para imam inilah yang akan diserang simultan oleh Iblis. Begitu para imam satu per satu berjatuhan dalam pencobaan, institusi moral sekuat Gereja Katolik itu pun akan ambruk.
Sadarkah Umat tentang Ini?
No hope! Pada kebanyakan kasus skandal imam baik skandal menyangkut wanita pun skandal2 lainnya, umat Katolik sendiri terkesan berlomba paling depan merajam lewat postingan2 di medsos.
Tanpa sadar, mereka memuluskan misi Iblis membinasakan Gereja Katolik. Mereka umumnya tak tahu bahwa begitu Gereja Katolik ambruk, mereka juga ikut2an binasa. Gali lubang kuburan sendiri, memreteli selang2 infus dari tubuhnya sendiri yang sebetulnya sekarat butuh resep manjur Sakramen Tobat yang ironisnya hanya imam tertahbis yang bisa memberikannya.
Akan halnya para imam sendiri. Atas nama demi terkesan gaul dan tak ketinggalan arus perubahan zaman, banyak yang kemudian sibuk memoles branding diri ketimbang mengusahakan diri hanya sebatas media perantara rahmat dan belas kasih Tuhan.
Apa kemudian yang perlu dibuat?
Kebangkitan kerohanian Katolik bbrp tahun belakangan ini harap dilihat sebagai daya kerja Roh Kudus mengisi sendi-sendi moralitas peradaban pop.
Tapi tak cukup hanya dengan menunjukkan geliat rohani yang devosional baik ke SP Maria, Sakramen Maha Kudus pun kepada orang2 kudus lainnya.
Masing-masing orang Katolik, baik para imamnya pun umatnya, SADAR dan HAYATI sepenuhnya bahwa kita adalah yang dari awal Rancangan Keselamatan Inkarnatif diputuskan oleh Bapa, telah ditetapkan sebagai pelaku misi keselamatan dunia itu sendiri dg kapasitas masing-masing, pada di sini kininya kehadiran masing2.
Hanya dengan menyadari jati diri itu, kita bisa pastikan dunia akan baik2 saja karena ada Gereja Katolik yang selalu mengisi sendi2 moralitasnya.
AI boleh datang dan melampaui kecerdasan natural manusia, tapi jika Gereja Katolik yakni Anda dan saya masing2 sadar akan jati diri kita, Mama Cindy pun bisa kita ajak makan semeja.
Sekian tambahan dari saya yang gagal menjawab panggilan menjadi imam. ππ
JPS, 2 Juli 2025
********

